Arsip untuk Kategori 'motivasi'

07
Jan
10

To Be dan To Have

Ada dua kata yang sangat menentukan corak hidup Kita. Kesalahan memilih kata yang dijadikan sebagai kendali hidup akan berujung pada kehancuran. Sebaliknya, bila Kita tepat memilihnya, maka perjalanan hidup Kita akan dipenuhi dengan prestasi dan kemuliaan hidup. Dua kata itu adalah To Be dan To Have.

To Be adalah keinginan Kita untuk “menjadi”. Keinginan itu dikaitkan dengan proses untuk mengejar prestasi dengan memanfaatkan kelebihan-kelebihan yang anda miliki. Contoh menjadi pengusaha terbaik di Indonesia yang mampu memperkerjakan 20 ribu lebih karyawan atau keinginan menjadi manager terbaik di perusahaan tempat bekerja.

To Have adalah keinginan Kita untuk “memiliki” sesuatu. Keinginan tersebut dikaitkan dengan proses meraih benda-benda materi atau hasil akhir dari sebuah usaha sebagai bentuk dorongan dari kesenangan duniawinya. Contoh dari To Have adalah keinginan untuk mendapatkan gaji, tunjangan, fasilitas, rumah, mobil, popularitas, status, dan pujian.

Perbedaan To Be dan To Have terletak pada titik tujuan yang hendak dicapai, bukan pada kata-kata. Misalnya, ketika Kita mengatakan ingin menjadi manager terbaik, pernyataan itu bisa menjadi To Be, bisa juga menjadi To Have. Iya sangat tergantung dari apa yang menjadi fokus pengejarannya.

Bila yang Kita kejar adalah gaji manager, fasilitas manager, mendapat pengakuan dan pujian dari banyak orang, maka keinginn itu merupakan To Have. Tetapi kalau yang Kita kejar adalah kesempatan berprestasi yang lebih besar dan bertanggung jawab sebagai seorang manager dengan mengerahkan semua kemampuan yang Anda miliki, maka keinginan itu merupakan To Be.

Kalau pikiran Kita dijejali To Have, maka kecenderungannya adalah setiap apa yang Kita lakukan harus selalu mendapat balasan, terutama yang sifatnya lebih ke materi dan kesenangan duniawi. Kita tidak tertantang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar kalau tidak dibayar setimpal atau mendapat kesenangan duniawi lainnya. Prestasi kerja Kita menjadi terbatas karena Kita hanya bekerja sesuai imbalan atau balasan yang diterima dari perusahaan. Akhirnya, potensi diri Kita stagnan dan tidak akan penah berkembangan.

Ketika Kita mengejar To Have, seringkali Kita tergoda untuk menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan To Have. Kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Banjaran, adalah salah satu contohnya. Akibat orentasi hidupnya adalah To Have, orang-orang yang terlibat kasus itu hidupnya dipenuhi kegelisahan. Bahkan, sudah ada beberapa pelaku yang mendekam di balik jeruji. Nama baik ternoda. Harga diri keluarganya pun anjlok.

Namun demikian, bukan berarti To Have dilarang. Hanya saja , To Have tak boleh dijadikan kemudi hidup. Bila Kita ingin punya rumah dan mobil, jangan pikirkan rumah dan mobil mewahnya (To Have). Pikirkan prestasi apa yang harus Kita raih agar Kita mampu membeli rumah dan mobil. Bill Gates bias menjadi orang terkaya didunia setelah dia berprestasi dibidang computer. M. Yunus mendapat hadiah nobel setelah berprestasi dibidang microfinance. C. Ronaldo mendapat bayaran mahal setelah ia berprestasi di bidang sepakbola.

Bila Kita ingin meraih sukses jangka panjang sekaligus kemulian hidup, jadikan To Be sebagai kemudi hidup Kita. Sebesar dan sehebat apa pun Kita, bila menjadikan To Have sebagai kendali hidup, kehancuran menanti Kita. Lehman Brothers adalah contoh paling anyar untuk hal ini.

Jadikanlah To Be sebagai kendali hidup dan yakinlah To Have pasti akan mengikuti Kita.

Dikutip dari tulisan Jamil Azzaini.

04
Jan
10

Dimanakah Sesungguhnya Letak Kebahagiaan Itu?

Apakah saat ini kita sudah merasa bahagia…..?

Dimanakah letak kebahagiaan yang sesungguhnya? Pertanyaan itu sangatlah sederhana akan tetapi mengandung makna yang sangat mendalam. Terkadang pertanyaan itu sulit dijawab karena saking sulitnya akhirnya manusia mencoba mengembalikan jawaban itu kepada Yang Diatas sana ( Tuhan Yang Maha Kuasa ). Orang hindu mengatakan kebahagiaan yang sesungguhnya adalah moksartam jagadhita ketika atman ( jiwa manusia ) menyatu dengan Sang Pencipta. Kurang lebih agama yang lain juga memiliki kepercayaan yang sama dengan istilah yang berbeda. Hanya saja jawaban seperti itu sangatlah abstrak dan sulit diterjemahkan. kebanyakan orang mengukur kebahagiaan dari apa yang dimilikinya, contoh saja; rumah mewah, mobil keluaran teranyar, jabatan yang tinggi, deposito untuk tujuh turunan, perusahaan yang besar dll. Akan tetapi pertanyaannya kemudian, apakah ketika semua itu sudah didapatkan dapatkah menjamin bahwa sesorang sudah bahagia?

Ada beberapa contoh orang sukses dan berlimpahkan harta pada jamannya, tetapi memiliki nasib yang tidak menyenangkan bahkan boleh dibilang tragis pada menjelang akhir hidupnya.

Ini adalah kisah nyata yang barangkali bisa kita jadikan referensi,” bahwa limpahan harta sesungguhnya tidak menjamin seseorang bahagia di dalam hidupnya”. Continue reading ‘Dimanakah Sesungguhnya Letak Kebahagiaan Itu?’




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.