25
Jan
10

Pemilihan Kepala Daerah oleh DPRD Kenapa Tidak?

Ada wacana berkembang secara national bahwasannya pemilihan kepala daerah sebaiknya dikembalikan kepada DPRD baik Propinsi, Kabupaten/Kota. Tentunya pemikiran ini bukan tanpa alasan, ditengarai setelah kurun waktu lima tahun kita menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara langsung telah banyak menimbulkan permasalahan, baik konflik vertical maupun horizontal yang sering kemudian berakhir di Mahkamah Konstitusi. Dari segi hasil juga belum menunjukan hasil yang memuaskan karena sering sekali rakyat ( baca: masyarakat pemilih ) disuguhkan pilihan-pilihan yang tidak rasional seperti pendekatan keluarga, kelan ( soroh ), bahkan intimidasi sekalipun. sering sekali baik partai pilitik maupun sang kandidat tidak memberikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat dalam terutama dalam urusan menentukan pilihan politik. Sering mereka ( partai politik- red ) tidak  memberikan keleluasaan kepada masyarakat pemilih untuk menilai sang kandidat secara objektif dengan pendekatan kompetensi calon bersangkutan. (“ pokok ne nyame ne jani maju dadi calon, kenken je carane pokokne harus pilih ye, nyak ye bise nyak ye sing” ) “ ( kini saatnya saudara kita menjadi calon , bagaimanapun caranya harus dipilih, entah dia mampu atau tidak itu urusan nanti ). Begitulah kata seorang teman saya yang menjadi tim sukses salah satu kandidat di Kabupaten Tabanan. Dengan kondisi sebagian besar  kita seperti sekarang ini dimana latar belakang pendidikan, ekonomi yang masih terbelakang, money politik juga sulit dihindarkan didalam pemilihan langsung dan biaya yang ditanggung pemerintah daerah dalam bentuk APBD juga tergolong sangat tinggi. Sebuah lembaga study keuangan mensinyalir APBN kita banyak yang tersedot untuk biaya pilkada langsung baik Gubernur, Bupati maupun Wali Kota.

Priseden Susilo Bambang Yudoyono dalam sebuah konferensi pers setelah mengadakan pertemuan dengan lembaga tinggi Negara di istana Bogor juga menyinggung persoalan pemilihan kepala daerah secara langsung ini sebagai sebuah kajian nasional dalam lima tahun kepemimpinannya kedepan. Salah satu alasannya adalah itu tadi anggaran Negara yang harus dialokasikan untuk pilkada langsung terlalu tinggi.

Ada beberapa alasan menurut penulis kenapa sebaiknya pimilihan kepala daerah ( Pilkada )  dikembalikan kepada DPRD baik Propinsi untuk Gubernur, Kabupaten/Kota untuk Bupati / Wali Kota, diantaranya : Continue reading ‘Pemilihan Kepala Daerah oleh DPRD Kenapa Tidak?’

08
Jan
10

Catatan Perjalanan Pansus D DPRD Gianyar (2).

Setelah Rabo tanggal 6 Januari 2010 Pansus D DPRD Kabupaten Gianyar mengunjungi dua desa yaitu desa Peliatan, Kecamatan Ubud dan desa Bukian, Kecamatan Payangan dalam rangka melakukan sosialisasi, penjaringan aspirasi berkaitan dengan rencana pemerintah Kabupaten Gianyar merevisi Perda yang berkaitan tentang retribusi penggantian biaya pendaftaran penduduk dan catatan sipil, kali ini Kamis 7 Januari 2010 Pansus D mengunjungi beberapa objek wisata yang berada di kabupaten Gianyar tentunya berkaitan dengan rencana pemerintah kabupaten Gianyar menaikan retribusi masuk ke objek-objek wisata yang berada di daerah kabupaten Gianyar. Objek yang dipilih kali ini adalah objek kolam renang Bukit Jati yang terletak di sebelah timur laut kota Gianyar, objek Goa Gajah dan Pura Tirta Empul Tampaksiring. Dipilihnya ketiga objek wisata ini dengan pertimbangan bahwa objek kolam renang Bukit Jati merupakan objek yang banyak dikunjungi oleh warga masyarakat yang sebagian besar warga masyarakat Gianyar dan sebagian masyarakat dari kabupaten tetangga seperti Klungkung, Bangli dan Karangasem. Jadi yang menjadi objek retribusi adalah sebagian besar merupakan  masyarakat lokal setempat. Sedangkan objek wisata Goa Gajah dan Pura Tirta Empul memang sebagian besar pengunjungnya adalah wisatawan mancanegara dan wisatawan lokal khususnya dari luar pulau Bali. Hal ini penting dijadikan bahan pertimbangan didalam mengenakan pungutan retribusi karena sudah menjadi komitmen legislative di dalam mengejar target pendapatan asli daerah ( PAD ) pada tahun 2010 ini kita jangan sampai membebani masyarakat setempat.

Sesuai dengan Perda Kabupaten Gianyar No. 3 Tahun 2005 Tentang Retribusi Masuk Tempat Rekreasi dan Olah Raga, Continue reading ‘Catatan Perjalanan Pansus D DPRD Gianyar (2).’

07
Jan
10

To Be dan To Have

Ada dua kata yang sangat menentukan corak hidup Kita. Kesalahan memilih kata yang dijadikan sebagai kendali hidup akan berujung pada kehancuran. Sebaliknya, bila Kita tepat memilihnya, maka perjalanan hidup Kita akan dipenuhi dengan prestasi dan kemuliaan hidup. Dua kata itu adalah To Be dan To Have.

To Be adalah keinginan Kita untuk “menjadi”. Keinginan itu dikaitkan dengan proses untuk mengejar prestasi dengan memanfaatkan kelebihan-kelebihan yang anda miliki. Contoh menjadi pengusaha terbaik di Indonesia yang mampu memperkerjakan 20 ribu lebih karyawan atau keinginan menjadi manager terbaik di perusahaan tempat bekerja.

To Have adalah keinginan Kita untuk “memiliki” sesuatu. Keinginan tersebut dikaitkan dengan proses meraih benda-benda materi atau hasil akhir dari sebuah usaha sebagai bentuk dorongan dari kesenangan duniawinya. Contoh dari To Have adalah keinginan untuk mendapatkan gaji, tunjangan, fasilitas, rumah, mobil, popularitas, status, dan pujian.

Perbedaan To Be dan To Have terletak pada titik tujuan yang hendak dicapai, bukan pada kata-kata. Misalnya, ketika Kita mengatakan ingin menjadi manager terbaik, pernyataan itu bisa menjadi To Be, bisa juga menjadi To Have. Iya sangat tergantung dari apa yang menjadi fokus pengejarannya.

Bila yang Kita kejar adalah gaji manager, fasilitas manager, mendapat pengakuan dan pujian dari banyak orang, maka keinginn itu merupakan To Have. Tetapi kalau yang Kita kejar adalah kesempatan berprestasi yang lebih besar dan bertanggung jawab sebagai seorang manager dengan mengerahkan semua kemampuan yang Anda miliki, maka keinginan itu merupakan To Be.

Kalau pikiran Kita dijejali To Have, maka kecenderungannya adalah setiap apa yang Kita lakukan harus selalu mendapat balasan, terutama yang sifatnya lebih ke materi dan kesenangan duniawi. Kita tidak tertantang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar kalau tidak dibayar setimpal atau mendapat kesenangan duniawi lainnya. Prestasi kerja Kita menjadi terbatas karena Kita hanya bekerja sesuai imbalan atau balasan yang diterima dari perusahaan. Akhirnya, potensi diri Kita stagnan dan tidak akan penah berkembangan.

Ketika Kita mengejar To Have, seringkali Kita tergoda untuk menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan To Have. Kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Banjaran, adalah salah satu contohnya. Akibat orentasi hidupnya adalah To Have, orang-orang yang terlibat kasus itu hidupnya dipenuhi kegelisahan. Bahkan, sudah ada beberapa pelaku yang mendekam di balik jeruji. Nama baik ternoda. Harga diri keluarganya pun anjlok.

Namun demikian, bukan berarti To Have dilarang. Hanya saja , To Have tak boleh dijadikan kemudi hidup. Bila Kita ingin punya rumah dan mobil, jangan pikirkan rumah dan mobil mewahnya (To Have). Pikirkan prestasi apa yang harus Kita raih agar Kita mampu membeli rumah dan mobil. Bill Gates bias menjadi orang terkaya didunia setelah dia berprestasi dibidang computer. M. Yunus mendapat hadiah nobel setelah berprestasi dibidang microfinance. C. Ronaldo mendapat bayaran mahal setelah ia berprestasi di bidang sepakbola.

Bila Kita ingin meraih sukses jangka panjang sekaligus kemulian hidup, jadikan To Be sebagai kemudi hidup Kita. Sebesar dan sehebat apa pun Kita, bila menjadikan To Have sebagai kendali hidup, kehancuran menanti Kita. Lehman Brothers adalah contoh paling anyar untuk hal ini.

Jadikanlah To Be sebagai kendali hidup dan yakinlah To Have pasti akan mengikuti Kita.

Dikutip dari tulisan Jamil Azzaini.

06
Jan
10

JANGAN SAMPAI RAKYAT TERBEBANI. Sebuah catatan Pansus D. DPRD Gianyar ( 1 ).

Peraturan Daerah ( Perda ) Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ( APBD ) Kabupaten Gianyar sudah disahkan bersama oleh DPRD   dan Bupati Gianyar bulan Desember lalu dan sudah mendapatkan verifikasi dari Gubernur Bali, itu artinya APBD sudah bisa dilaksanakan oleh Bupati Gianyar. Tugas DPRD selanjutnya adalah mengawasi dan melakukan kontrol terhadap pelaksanaan Perda APBD tersebut. Sekalipun pos pendapatan melalui Pendapatan Asli Daerah ( PAD ) mengalami peningkatan yang cukup fantastis yaitu dari Rp. 106,85 milyar pada tahun anggaran 2009 ditargetkan meningkat pada tahun anggaran 2010 menjadi Rp. 127,82 milyar, itu artinya ada peningkatan sebesar  Rp. 20,97 milyar atau kurang lebih 19,63 persen. Tapi sayang peningkatan dari pos PAD tidak dibarengi dengan peningkatan dari dana yang bersumber dari Dana Perimbangan yang diterima dari pemerintah pusat pada tahun ini, bahkan pendapatan yang bersumber dari DAU ( Dana Alokasi Umum ) dan DAK ( dana Alokasi Khusus ) mengalami penurunan yang sangat tajam. DAU pada tahun 2010 penerimaannya sebesar Rp. 387,49 milyar sedangkan penerimaan tahun 2009 sebesar Rp. 393,59 milyar . ini berarti mengalami penurunan sebesar Rp. 6,205 milyar . sementara penerimaan dari pos DAK  tahun 2010 sebesar Rp. 43,76 milyar  sedangkan pada tahun 2009 realisasi penerimaan dari sektor ini sebesar Rp. 59,61 milyar, ini berarti mengalami penurunan sebesar Rp. 15,851 milyar lebih. Pendapatan dari Bagi Hasil Pajak / bagi Hasil Bukan Pajak juga mengalami penurunan sebesar Rp. 895,19 juta lebih. Bahkan Pendapatan Daerah yang bersumber dari lain – lain Pendapatan Daerah yang sah juga mengalami penurunan yang sangat tajam mencapai  Rp. 11,87 milyar. Sehingga secara keseluruhan APBD Gianyar mengalami penurunan hampir sebesar Rp. 40 milyar dari Rp. 703 miliar pada APBD tahun 2009 menjadi Rp. 665,365 milyar pada APBD 2010. Ada beberapa faktor yang menyebabkan menurunnya penerimaan  dari pos dana bagi hasil dari pemerintah pusat, salah satunya meningkatnya bilangan pembagi sebagai konsekwensi dari terjadi pemekaran baik pemekaran propinsi maupun kabupaten di tingkat nasional serta lemahnya lobi-lobi yang dilakukan oleh bupati Gianyar kepada pemerintah pusat. Continue reading ‘JANGAN SAMPAI RAKYAT TERBEBANI. Sebuah catatan Pansus D. DPRD Gianyar ( 1 ).’

05
Jan
10

Catatan Dari Arena Konferensi Cabang III PDI Perjuangan Gianyar

cok aceKonferensi cabang PDI Perjuangan III telah berakhir pada hari Senin 4 Januari 2010, Konfercab merupakan agenda lima tahunan. Melalui konfercab ini program kerja partai lima tahun ke depan dirumuskan. Seperti biasa agenda yang paling menonjol didalam setiap pelaksanaan suatu konferensi dari sebuah partai politik manapun adalah pemilihan ketua partai pada tingkatannya termasuk susunan struktur kepengurusannya. Tetapi kali ini saya tidak akan menyoroti prihal pemilihan pimpinan PDI Perjuangan lima tahun kedepan, karena menurut saya pergantian pimpinan suatu organisasi lebih-lebih organisasi politik semacam PDI Perjuangan adalah merupakan hal yang biasa, dan seperti biasanya pola penyusunan kepengurusan pada suatu partai politik tidak terlepas dari kepentingan politik itu sendiri, sehingga saya tidak terlalu heran dengan terdepaknya beberapa kader senior PDI Perjuangan dari susunan kepengurusan DPC PDI Perjuangan Gianyar periode 2010-2015.

Ada kejadian menarik dan menggelitik ketika Konfercab III PDI Perjuangan Gianyar dilaksanakan, yang membuat saya geli dan tertarik untuk menjadikannya sebagai catatan pribadi saya. Continue reading ‘Catatan Dari Arena Konferensi Cabang III PDI Perjuangan Gianyar’

04
Jan
10

Dimanakah Sesungguhnya Letak Kebahagiaan Itu?

Apakah saat ini kita sudah merasa bahagia…..?

Dimanakah letak kebahagiaan yang sesungguhnya? Pertanyaan itu sangatlah sederhana akan tetapi mengandung makna yang sangat mendalam. Terkadang pertanyaan itu sulit dijawab karena saking sulitnya akhirnya manusia mencoba mengembalikan jawaban itu kepada Yang Diatas sana ( Tuhan Yang Maha Kuasa ). Orang hindu mengatakan kebahagiaan yang sesungguhnya adalah moksartam jagadhita ketika atman ( jiwa manusia ) menyatu dengan Sang Pencipta. Kurang lebih agama yang lain juga memiliki kepercayaan yang sama dengan istilah yang berbeda. Hanya saja jawaban seperti itu sangatlah abstrak dan sulit diterjemahkan. kebanyakan orang mengukur kebahagiaan dari apa yang dimilikinya, contoh saja; rumah mewah, mobil keluaran teranyar, jabatan yang tinggi, deposito untuk tujuh turunan, perusahaan yang besar dll. Akan tetapi pertanyaannya kemudian, apakah ketika semua itu sudah didapatkan dapatkah menjamin bahwa sesorang sudah bahagia?

Ada beberapa contoh orang sukses dan berlimpahkan harta pada jamannya, tetapi memiliki nasib yang tidak menyenangkan bahkan boleh dibilang tragis pada menjelang akhir hidupnya.

Ini adalah kisah nyata yang barangkali bisa kita jadikan referensi,” bahwa limpahan harta sesungguhnya tidak menjamin seseorang bahagia di dalam hidupnya”. Continue reading ‘Dimanakah Sesungguhnya Letak Kebahagiaan Itu?’

24
Des
09

Bagaimana Kita Mengukir Sejarah Hidup?

Lahir, hidup dan meninggal adalah merupakan suatu kodrat yang pasti dilalui oleh setiap manusia di dunia. Tetapi pertanyaannya kemudian apakah kita cukup merasa puas hanya dengan menjalani kehidupan dengan apa adanya seperti itu ?photo by dirga
Lahir – Hidup – Mati………..?
Mengapa kebanyakan diantara kita cukup merasa puas hanya dengan… Lahir – Hidup kemudian meninggal ? Continue reading ‘Bagaimana Kita Mengukir Sejarah Hidup?’




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.